Nyantri Sebagai Tradisi Keluarga
Today, ponakanku yang perawakannya kayak laki-laki dewasa usia 25 tahun
itu, padahal baru aja semester ini lulus SD. Tapi gemuk banget, besar, plus
sejak kecil udah diajari nyetir motor, berbagai jenis motor bisa dia, jam
terbangnya juga sudah kemana-mana (area Pasuruan, nda macam saya, keluar jalan
raya aja nda berani, nda bisa nyebrang, jadi jam terbangnya hanya di sekitaran
desa saya, dan 3 desa dari desa saya. Ahahah. Mbuh kapan saya berani menambah
wilayah zona berkendara), kemarin-kemarin ini dia juga pamer gara-gara udah
bisa nyetir mobil. Ucapan kesombongan yang sering dibusungkannya “Idang
sedanten pun saget, Te. Pesawat mawon sing Idang deret saget nyupir e“. Kalau
dibonceng motor sama dia ini, saya merasa aman banget, dan cara dia ngemudinya
juga safety, nda ada was-was di benak
saya.
Kerap kali ketika jalan sama saya dia selalu bilang “Aduuhh, tante niki
kok cek alit e seh, maem ra te, sing katah” saya menimpali “Hmm, sakderenge
pean ageng nemen kayak ngeten, biyen lek pean dolan teng meriki, sinten sing
gendong pean lek sanes tante”, dia ketawa “Oh engge ngge”.
Dan hari ini, waktu kian beranjak menepi, menyebar ke segala sudut
pandang, dari yang awalnya (jaman masih MTs-MA) kami sering bertukar lelucon,
nemenin dia mandi di bor (inget banget dia suka mandi di Bor yang dibangun di
tepian sawah, kalau main ke rumah pasti tujuan utamanya adalah mandi di bor.
Ahaha. Maklum dia orang daerah gunung, air sangat di eman-eman disana). Hmm,
hari ahad, hari yang bagus untuk memulai belajar, “Ati-ati Le, sing kerasan,
ojo nangisan, pean nda kiro digudoi (diisengin) kakak Moza wisan. Semoga apa
yang diharapkan oleh orang tuamu khususnya, dan orang-orang yang tulus
menyayangimu terijabah. Hmm, kok idang bidal pas tante teng Malang seh,
setidaknya tante pengen maringi Hmmm, semacam sesuatu, ben tetap ada saat
dimana kau akan mengingatku. Mangken pun lek wangsul tak titipaken ayahe”.
Last part, I want to say
“Sing ati-ati, bukan tanpa alasan orang tuamu tega meninggalkanmu sendiri untuk
nyantri, digempur kegiatan pondok sampai larut malam, jauh dari rumah, tidak.
Orang tuamu pasti beralasan dan bertujuan, tante bisa merasakan apa yang
dirasakan was, your father. Pasti sedih, ia tidak menangis seperti ibumu karena
ia menguat-nguatkan agar tidak turut brebes mili. Jenenge mondok iku yo tirakat
Le. Kita saling sambung do’a yaa, sing ati-ati pokoke”.
Bismillah.
Ditulis dari kota sebelah, 23 Juni 2020
Komentar
Posting Komentar