Red Zone Part II
Dari sangat sedikit
yang ku ketahui tentang cinta, yaa.. memang tak banyak yang ku tahu, termasuk
cinta.. dan yang ku tahu tentang cinta adalah.. Hmm..
Aku tidak bisa
mendefinisikannya, aku sendiri bingung. Tapi aku bisa menganalogikannya, tapi
tentunya sesuai sudut pandangku. Aku menganalogikan cinta itu seperti kita
membela tanah air. Aku tidak tahu, definisi khusus tentang Nasionalis dan
Patriotis itu seperti apa, yang ku tahu hanya ketika ada yang menjelek-jelekkan
tanah airku, aku ngga terima. Meski aku tahu, segunung kekurangan Indonesia,
Negara yang kalau ada acara dimulainya pukul 9, kita baru datang pukul 10, dan
acaranya baru dimulai pukul 11. Negara yang hukumnya seperti karet saking
fleksibelnya. Negara yang kadang kala seperti mata pisau pada golongan
tertentu, kadang kala juga seperti jarum jam (re: tumpul) pada golongan yang
lain. Tidak pasti, dan masih banyak lagi kekurangan yang mungkin tak akan cukup
untuk ku detailkan disini. Disisi lain, aku tahu Amerika, Negara super power, Negara
paling berkuasa di dunia, pun aku tahu Jepang, Negara yang terkenal dengan
kedisiplinan serta kecanggihan teknologinya, juga Rusia (Uni Soviet), Negara
dengan sistem militer terkuat di dunia, dan banyak Negara lain yang elok
dipandang dan mendominasi.
Yah, aku tahu
kelebihan-kelebihan itu, but.. semua
itu sama sekali tidak mempengaruhi rasaku pada Indonesia. Jam karetnya,
ketidakdisiplinannya. Ke-randomannya malah menjadi hal unik bagiku. Negara ini
begitu lucu. Mungkin sikap itu yang dinamakan cinta, sebuah cita rasa tertentu
yang tercurah sepenuh hati, membutakan dan menulikan (membuat tuli), mampu
mengubah suatu hal yang sebetulnya
adalah kekurangan menjadi hal yang unik dan berkesan bagi pelakunya. Bahkan
segunung apapun kelebihan orang (atau sesuatu) lain, tak membuat kita berpaling
atau merubah haluan untuk megalihkan cinta dari tempat sebelumnya. Cinta tidak
memandang apapun, tidak berlogika, dan tidak perlu pintar untuk memiliki cinta.
jadi, tidak mudah menjustifikasi kita cinta kepada sesuatu jika masih belum
bisa legowo dan menerima apapun yang sudah dimiliki. Seburuk apapun Negara ini,
kewajiban kita mencintai. Karena kita sudah memutuskan untuk menjadi warga
negaranya. Kita sudah berikrar melalui Kartu Tanda Penduduk (re: KTP) untuk
menjadi Warga Negara Indonesia (re: WNI). Bukankah semua itu adalah pilihan
kita untuk menjadi WNI dan ber-KTP sebagai buktinya? jadi, sudah wajib kita
mencintai Indonesia dengan segala kekurangannya. Karena aku yakin, kita semua
hamba yang beriman, dan banyak sekali aspek-aspek iman; seperti kebersihan,
malu, cinta tanah air dll (selain 6 rukun Iman yang fundamental). Jadi, itulah
arti cinta menurutku. Cinta kepada siapapun itu. Maafkan jika aku salah dalam
memaknai dan menganalogikan, sekali lagi itu berdasarkan sudut pandangku.
(Ini Tulisan Sudah Lama, Tapi Lupa Tidak Ditulis Tanggalnya Presisinya)
Malang, Juni 2020
Komentar
Posting Komentar