Siklus Teh Hangat


Selamat sore
Dalam rerintik yang beraroma hujan ini, aku merengkuh bayangmu
Yang berjatuhan dan berdecit bersama riak sesuara rinduku
Apa kau pernah benar-benar merasakan tetiba memanggil namaku saking merindunya?
Serupa hujan sore ini yang tetiba jatuh dan mengoyak hatiku, membasahi dan mendamaikan
Tidak hanya persoalan rindu yang ingin ku sampaikan dalam hujan sore ini
Aku juga ingin menyampaikan perihal teh hangat yang kau pesan pagi tadi
Uapnya telah mengangkasa bersama seancata do’a do’a
Airnya telah mendingin, sama halnya dengan gemuruh hati ini melihat kebasnya rerintik
Aku menyamakan rerintik itu seperti rindumu, agar rinduku berbalas tanpa tanda batas
Tuan, apa kau pernah mampu menghitung berapa mili kubik rerintik yang jatuh dari sore demi sore?
Jika jawabanmu adalah tidak, maka seperti itulah rinduku
Luas, gelap dan dalam
Hanya Sang Pencipta Semesta yang mampu mempertemukan rindu kita dalam satu wadah gelas kaca
Dengan cinta yang hangat setiap hari
Dengan uap yang selalu mengangkasa setiap waktu
Pun dengan suara penjual teh setiap saat
Mari kita nikmati hangat teh kita tiap sore demi sore yang akan datang..


Malang, 08 April 2020
Kamar F2 dengan sesuara rerintik hujan diluar jendela.



Komentar

Postingan Populer