Rela Itu Cinta
Bismillah..
From this part, I want to tell you about..
Ayah, mungkin hingga detik di mana tulisan ini ditulis, aku masih saja belum bisa menjadi putrid seperti yang engkau inginkan, impikan dan harapkan.
Tapi, hingga aku menjadi sosok yang sekarang ini, aku rasa ibulah yang paling berjasa. Membuatku bisa ngaji sejak bayi, yaah.. meskipun orang-orang sering bilang ”Ngga kaget sih kalau Eva udah bisa ngaji Al-Qur’an dengan tartil dan tajwid di umur segitu (6 tahun), wong bapaknya guru ngaji..” Hmm, kalau aja dulu aku udah paham dengan maksud dari ucapan tersebut, aku pasti akan bilang “Ayahku emang guru ngaji, tapi bagaimanapun, kalau bukan karena ibuku yang memondokkanku di usia 5 tahun buat nyantri dan belajar ngaji, ngga mungkin aku bisa ngaji. Yang ku ingat waktu kejadian itu, aku digendong ibu, tetiba ibu mengalihkan gendongannya ke orang lain, yang mana beberapa hari kemudian aku memanggil orang lain tersebut dengan sebutan “ Bu Ning” (Panggilan untuk Bu Nyai tempatku mondok pas kecil dulu). Tentu saja, ketika ibu merelakanku untuk digendong orang lain yang tidak ku kenal, aku menangis! Naluri anak yang bisa dibilang masih balita saat itu, yang tiba-tiba digendong orang lain, pasti menangis menjerit-jerit. Tapi entah apa yang ada dipikiran ibuku, dengan tega ibu membiarkan aku menghilang dari pandangannya. Waktu berjalan begitu sajaa. Hingga aku menjadi Eva yang sekarang..
Wahai ayah, ketahuilah..
Kau berhutang banyak pada ibu.
Terima kasih saja aku pikir itu sangat kurang untuk mengganti jerihnya.
Ayah, satu hal yang ku ketahui dari ibu, bahwa ibu sangat mencintaimu. Itulah kenapa, beliau rela membesarkan dan mendidikku agar mampu menjadi Evamu.
Ayah, aku pernah mendengar ibu bercerita bahwa, ibu mau menikahimu karena kau pinter ngaji. Begitu katanya.
Dan aku tidak tahu ayah, harus mencari lelaki penggantimu yang seperti apa. Apakah sama dengan kriteria ibu saja?
Ayah, sekali lagi ku ingatkan bahwa kau berhutang banyak pada ibu.
From this part, I want to tell you about..
Ayah, mungkin hingga detik di mana tulisan ini ditulis, aku masih saja belum bisa menjadi putrid seperti yang engkau inginkan, impikan dan harapkan.
Tapi, hingga aku menjadi sosok yang sekarang ini, aku rasa ibulah yang paling berjasa. Membuatku bisa ngaji sejak bayi, yaah.. meskipun orang-orang sering bilang ”Ngga kaget sih kalau Eva udah bisa ngaji Al-Qur’an dengan tartil dan tajwid di umur segitu (6 tahun), wong bapaknya guru ngaji..” Hmm, kalau aja dulu aku udah paham dengan maksud dari ucapan tersebut, aku pasti akan bilang “Ayahku emang guru ngaji, tapi bagaimanapun, kalau bukan karena ibuku yang memondokkanku di usia 5 tahun buat nyantri dan belajar ngaji, ngga mungkin aku bisa ngaji. Yang ku ingat waktu kejadian itu, aku digendong ibu, tetiba ibu mengalihkan gendongannya ke orang lain, yang mana beberapa hari kemudian aku memanggil orang lain tersebut dengan sebutan “ Bu Ning” (Panggilan untuk Bu Nyai tempatku mondok pas kecil dulu). Tentu saja, ketika ibu merelakanku untuk digendong orang lain yang tidak ku kenal, aku menangis! Naluri anak yang bisa dibilang masih balita saat itu, yang tiba-tiba digendong orang lain, pasti menangis menjerit-jerit. Tapi entah apa yang ada dipikiran ibuku, dengan tega ibu membiarkan aku menghilang dari pandangannya. Waktu berjalan begitu sajaa. Hingga aku menjadi Eva yang sekarang..
Wahai ayah, ketahuilah..
Kau berhutang banyak pada ibu.
Terima kasih saja aku pikir itu sangat kurang untuk mengganti jerihnya.
Ayah, satu hal yang ku ketahui dari ibu, bahwa ibu sangat mencintaimu. Itulah kenapa, beliau rela membesarkan dan mendidikku agar mampu menjadi Evamu.
Ayah, aku pernah mendengar ibu bercerita bahwa, ibu mau menikahimu karena kau pinter ngaji. Begitu katanya.
Dan aku tidak tahu ayah, harus mencari lelaki penggantimu yang seperti apa. Apakah sama dengan kriteria ibu saja?
Ayah, sekali lagi ku ingatkan bahwa kau berhutang banyak pada ibu.
Malang, 03 Ramadhan 1441 H.
Komentar
Posting Komentar