Pecahan Gelas Kaca

Siang ini aku ingin berkisah perihal gelas kaca
Teh hangatku memenuhi dinding-dindingnya
Manisnya terhirup hingga ke dasar jiwa
Aku memperhatikan gelas itu
Tampak uap yang terbit terus menerus tanpa jeda
Aku meneguknya
Terasa airnya menyegarkan, namun manisnya membungkam mulutku
Teh itu kini tinggal seperempat
Lagi lagi ku amati, uapnya masih mengepul di ambang kehidupan
Aku ingin segera menghabiskannya agar segera beranjak
Namun rasa sayangku kepada manisnya membuatku takut kehilangan
Aku mendiamkan sisa seperempat itu dengan diam dan hening
Keningku tertancap pada waktu
Aku masih ingin menikmati waktu demi waktu bersama tehku
Namun apalah daya jika waktu terus memburu
Akhirnya, kesadaranku terjaga
Aku telah memecahkan gelas kaca itu
Tehku tumpah, lantai penuh pecahan gelas kaca
Teh manisku telah habis masanya
Uapnya membumbung dan mengangkasa
Jika andai masih bisa diucapkan,
Lantas tak kan cukup untukku berkata "Andai"
Andai saja waktu tak memburuku,
Andai saja aku tak pergi untuk membuat teh
Andai saja, Andai saja dan Andai saja



Pasuruan, 26 Mei 2020

Komentar

Postingan Populer