Diskusi Senja


Pagi ini kami bersua
antara aku, bising fajar, lambaian nyiur serta senja yang berpendar
dalam perjumpaan ini, senja yang berkisah terlebih dahulu
perihal "Apakah Bumi yang pergi meninggalkan?"
atau "Matahari yang mulai nanar sehingga enyah dan terbenam?"
Kami berdiskusi perihal siapa yang meninggalkan dan berselamat tinggal
Lambaian nyiur yang mulai rimpuh tetap ikut beradorasi dalam dinginnya diam
Aku tetap terpaku, ku dongakkan kepala dengan tangan menengadah
tampak awan berlarian tak sabar untuk segera menjumpai senja
Lantas, siapa yang mengawali diskusi dingin ini?
dan siapa yang akan mengakhirinya nanti?

Kepada senja yang mulai berkisah perihal kasih
Kami khusyu mendengarnya
Takkan kami hirapkan momentum sakral ini
Mendengarkan kiat-kiat ucapan selamat tinggal itu
Senja mulai mengeja bait cintanya
ia mengatakan perihal sumarahnya
ia bersimpuh dihadapan jalan setapak panjang seorang diri
air mata bukan lagi teman baiknya
selayaknya aku, bising fajar, dan lambaian nyiur yang sudah berkawan baik
senja terisak, nyiur menghembuskan sarayunya, sedang fajar mulai bersuar
dan aku, kau tahu sendiri pasti, aku tetap khusyu mendengarkan kisah sang senja

Wahai senja
Jika andam karam adalah puncak dari setiap penciptaan
Maka sudilah kiranya kau mempersilahkannya untuk berlalu
Kau sungguh alap dengan gemintang malammu
dengan senyummu yang semakin ranum
bagiku kau layak menjadi rucira dan reswara
persilahkan saja segenap penciptaan untuk pamit undur diri
aku, bising fajar serta lambaian nyiur tetap disisimu
mendengar itu, senja kembali merekah
ia menutup diskusi pagi ini dengan lahapnya hidangan fajar
mengakhirinya dengan do'a agar kami semua selamat, bahkan jika selamat tinggal sekalipun

kepada senja, kami tetap bersamamu..


-dewimunfachiroh1-

Pasuruan, 15 Mei 2020/ 23 Ramadhan 1441 H

Komentar

Postingan Populer