Mysterious moment in my life




Bu Hanik, lengkapnya Bu Umi Hanik
Guru kece nan keren yang udah bikin aku tergila-gila sama Kimia sampai...
Yah, bahkan sampai sekarang. belum bisa ngelupain Cabang Ilmu Sains yang satu itu. Mungkin karena aku sudah senyawa banget ya sama si kim kim, Kimia.
Buatku, Kimia itu... susah awalnya, banget. bahkan aku udah pernah ngga suka, eh hampir cenderung benci sama Kimia.
Ya Allah, aku inget banget waktu itu, ketika buatku, kimia hanyalah sebuah pelajaran yang nggak masuk akal. Bener, aku pernah punya pikiran kayak gini dulu, aku juga pernah beropini, buat apa belajar kimia, kita juga nggak mau makan makanan yang berbahan kimia. STOP!!! Ini hanyalah ungkapan orang orang awam yang belum tahu dan belum kenal sama indahnya dunia molekul molekul. Termasuk aku dulu. Ya Allah, bener. Aku pernah ngga suka banget sama yg namanya kimia. Aku bener-bener buta sama yang namanya Kimia. Dan itu berdampak sama pengajarnya. Pelajarannya aku ngga suka. jadi, otomatis pengajarnya juga ngga ku suka. Tapi subhanallah, Allah benar-benar membalik hatiku dalam sekejab. Alhamdulillah, aku dapat chemistry dalam kimia. Lebih tepatnya aku dapat hidayah pada semester 2 kelas X pada bab Elektrolit. Aku inget banget momen itu, moment dimana pertama kalinya aku nyambung sama kimia, hingga akhirnya aku ketagihan sama dunia kimia. duniaku serba kimia. kimia, kimia, dan kimia. bahkan, meskipun pelajaran besok bukan pelajaran kimia, tetep aja aku belajar buku kimia. bahkan anehnya lagi, aku pernah sampe kehabisan soal di LKS. Karena hampir semua soal udah pernah ku baca dan ku kerjakan (yang bisa aja sih, hehehe). Sampai akhirnya ku putuskan untuk kuliah di juruan kimia murni, meski kenyataannya sekarang ngga seperti itu. Tapi kecintaanku sama kimia belum juga hilang sampai sekarang, biarlah kimia menjadi kenanganku dan bagaimana dulu gilanya aku sama kimia.
Kimia dan Bu Hanik, dua buah komponen yang tak terpisahkan, seperti larutan heterogen yang apabila diaduk terus menerus akan menjadi homogen. Yeah, ketika aku inget kimia, itu otomatis aku ingat sama Bu Hanik. Yang paling ku ingat dari beliau adalah, beliau gemar sekali membanding-bandingkan aku dan cak Ani. Dikelas kerap kali "Eva.. mosok ngerjakno iki gaiso, Syarwani loh iso"
dan aku pasti "Bu Hanik niki, ngge mesti mawon cak Ani saget bu, nopo cak Ani sing boten saget". "Engga wes, ayo maju maneng, kerjakno sampe betul. jare syarifah.." (Ujung-ujungnya juga jadi bahan bully-ing bu Hanik dan temen-temen sekelas.
Beda orang, beda ekspektasi. Beda Bu Hanik, beda Bu Yuni.
Aku ngga pernah tahu secara pasti, bagaimana sejarah adanya Syarifah. Aku juga ngga tahu secara real, alasan temen-temen membuat singkatan yang *** parahnya, mereka men-share singkatan itu sama semua guru, udah! aku sering habis jadi bahan bully-ing hampir tiap hari. Kalau waktunya Bu Yuni "Sekarang sampe bab apa?". "Bab Hereditas Bu?" Jawab kami. "Yang mau njelasin siapa?". Aku dan mbak Nia suka banget nunjuk Rima, karena bagi kami, Rima itu paham betul tentang Biologi. Tapi Rima hanya punya dua suara, suara dariku dan mbak enya. sedang temen-temen yg lain, yg paling ku ingat, golongannya mbak Fatim yg paling lantang, "Syarifah Bu, syarifah" Mbak Fatim and the geng. "Oh iya, ayo Eva". "Loh Bu, jangan Eva, bu. Eva ndak tau soal hereditas Bu. Rima pun Bu?". "Mangkanya njelasin sambil belajar, biar tahu. Tahun lalu yg jelasin bab ini juga syarwani. sekarang gantinya ya Eva". "Loh Bu, boten pun bu?". Sekuat apapun aku nolak, sekuat itu pula Bu Yuni menarik tanganku buat maju. Duh, nasib. aku menjelaskan seadanya.
Beda Bu Hanik, Bu Yuni, beda juga bu Fisik. makin kill*r ini proses bully-ing nya. sudah, dicukupkan aja.
Intinya, dengan adanya Syarifah, membuatku lebih sering buka buku. bedakan ya, buka sama belajar. buka belum berarti belajar. tapi seenggaknya aku lebih sering buka, setidaknya aku baca judul babnya. daripada sebelum adanya Syarifah, jangankan belajar, buka aja jarang. hahaha. Maafkan Eva yang dulu.
Jadi syarifah itu susah susah gampang, apalagi jika udah di banding-bandingkan sama cak Ani, si manusia kamus, manusia kalkulator, buatku.
Itulah kenapa, aku lebih sering buka buku baca judulnya aja, habis itu udah. tak tutup. buat jaga jaga aja takut ada momen-momen suruh maju ngerjakan soal, atau suruh ngejelasin bab kayak Bu Yuni.
Wassalam===========

Komentar

Postingan Populer