My First Journal About Pengukuran Kuantitas Biogas
Pengukuran
Perbandingan Nilai Kuantitas Biogas dari Berbagai Macam Sumber Bahan Pembuatan
Biogas
Dedik setiawan (16640011)1, Dewi Munfachiroh (16640056)2,
Tantini (16640028)3, Wahyutri utami Setyorini (16640066)4
Mahasiswa Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
ABSTRAK
Penelitian
ini berisikan tentang perbandingan jumlah biogas yang dihasilkan dari berbagai
macam bahan pembuatan biogas seperti pada bahan ampas tahu, kotoran sapi, eceng
gondok, sampah sayuran dan buah. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbandingan dari kumpulan beberapa
jurnal ilmiyah mengenai biogas. Berdasarkan hasil perbandingan data dari
berbagai jurnal yang digunakan dapat diketahui bahwa ampas tahu sebanyak 1 kg
atau kurang lebih 9,46 liter menghasilkan 15 liter biogas, kotoran sapi setiap ekornya menghasilkan
500-600 liter biogas, eceng gondok sebanyak 1 kg menghasilkan 0,6254 liter biogas, dan sampah organik (sayuran dan buah)
sebanyak 1 kg menghasilkan 0,0172 liter biogas. Sehingga dapat diketahui bahwa
yang memiliki nilai kuantitas pengahasil biogas tertinggi adalah kotoran sapi.
Kata
kunci: Bahan, Biogas, Kuantitas, Macam, Perbandingan.
I.
PENDAHULUAN
Permasalahan
pengelolaan sampah dapat diminimalkan dengan menerapkan pengelolaan sampah yang
terpadu (Integrated Solid Waste Management/ISWM), diantaranya waste
to energy atau pengolahan sampah menjadi energi (Damanhuri, 2010).
Salah satu bentuk energi yang dihasilkan dari sampah adalah biogas, yaitu
energi terbarukan yang dibuat dari bahan buangan organik berupa sampah, kotoran
ternak, limbah
tahu, enceng gondok serta bahan
lainnya (Surawiria, 2005).
Biogas
dalam skala rumah tangga dengan jumlah ternak 2 – 4 ekor atau suplai kotoran
sebanyak kurang lebih 25 kg/hari cukup menggunakan tabung reaktor berkapasitas
2500 – 5000 liter yang dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 liter minyak
tanah/hari dan mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah tangga
pedesaan dengan 6 orang anggota keluarga (Kaharudin dan Sukmawati, 2010).
Salah
satu contoh energi alternatif yang ramah lingkungan adalah penggunaan biogas.
Biogas adalah gas yang dihasilkan dari limbah rumah tangga, kotoran hewan,
kotoran manusia, sampah organik dan sebagainya, yang mengalami proses
penguraian atau fermentasi oleh mikroorganisme.
Salah
satu penyebab kerusakan lingkungan, yaitu penggunaan energi dari fosil yang
tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan solar dan bensin. Pengelolaan limbah
industri yang tidak memenuhi standar kesehatan lingkungan juga menjadi salah
satu penyebab rusaknya lingkungan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis kotoran ternak , limbah
tahu , enceng gondok ,dan sampah organik yang mempengaruhi kuantitas biogas.
II. PEMBAHASAN
Bervariasinya massa biogas yang dihasilkan dari beberapa sumber
bahan baku pembuatan biogas cukup menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan.
Perbedaan tersebut disebabkan karena beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Seperti nilai pH, temperatur digester, tekanan, waktu pembusukan, kelembapan
udara dll. Biogas dapat dihasilkan dari beberapa bahan organik seperti ampas
tahu, kotoran sapi, eceng gondok, sampah sayur dan buah dls.
1.)
Biogas dengan bahan baku ampas tahu
Limbah yang dihasilkan oleh industri tahu ada dua macam, yaitu
limbah padat yang biasanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sedangkan limbah
yang kedua berupa limbah cair yang biasanya langsung dibuang ke lingkungan.
Limbah tahu cair ini merupakan limbah organik yang mudah diuraikan oleh
mikroorganisme secara alamiah. Melalui pengolahan limbah cair tahu dengan
kapasitas 283,8 m3/hari akan diperoleh hasil biogas sebesar 442,6 m3/hari.
Nilai tersebut dihitung dari tiap 1 kg kedelai yang mampu menghasilkan 9,46
liter limbah tahu. Sehingga setiap 1 kg kedelai mampu menghasilkan 15 liter
biogas.
2.)
Biogas dengan bahan baku kotoran sapi
Semua jenis ternak menghasilkan kotoran ternak dengan jumlah dan
kandungan haranya bervariasi satu sama liannya. Kandungan unsur hara dalam
kotoran ternak ruminansia umumnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kotoran
ternak jenis unggas. Hal ini sangat berkaitan dengan kualitas pakan yang
diberikan.
Untuk reaktor biogas skala kelompok tani ternak reaktor didesain
dengan kapasitas 18 m3 untuk menampung kotoran sapi sebanyak 10-12
ekor sapi. Berdasarkan perhitungan desain, reaktor tersebut mampu menghasilkan
biogas sebanyak 6 m3/hari. Sehingga, dapat dihitung jika 1 ekor sapi
mampu menghasilkan 0,5-0,6 m3/hari.
3.)
Biogas dengan bahan baku eceng gondok
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan
salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Dibalik efek negatif keberadaannya
sebagai gulma dan faktor utama pendangkalan daerah perairan, namun beberapa
kemungkinan nilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan yaitu unsur metan yang
terkandung pada eceng gondok dan cukup mengandung selulosa dalam jumlah yang
cukup besar. Kandungan selulosa inilah yang memiliki potensi sebagai pembuatan
biogas.
Pembuatan biogas dengan bahan baku 20 kg eceng gondok
cacah sangat dipengaruhi oleh tekanan, waktu serta jenis substratnya.
Berdasarkan percobaan, eceng gondok cacah sebesar 20 kg mampu menghasilkan
biogas sebesar 0,0126345 kg/hari dengan menggunakan
substrat EM4 (Efective Microoganisme). Sedangkan
biogas berbahan baku 20 kg eceng gondok cacah dengan substrat kotoran sapi
mampu menghasilkan biogas sebesar 0,0125091 kg/hari.
4.)
Biogas dengan bahan baku sampah organik
Sampah organik atau sampah basah adalah sampah yang
berasal dari makhluk hidup. Sampah jenis ini sangat mudah untuk terurai
(degradable) secara alami seperti dedaunan dan sampah dapur. Secara alamiah,
biogas yang dihasilkan dari sampah organik adalah gas yang mudah terbakar. Gas
ini dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob.
Umumnya, semua jenis sampah organik yang berbentuk padat maupun cair sangat
cocok untuk digunakan menjadi sistem biogas sederhana. Bila sampah-sampah
tersebut membusuk, akan dihasilkan gas metana (CH4) dan
karbondioksida (CO2). Namun, hanya gas metana saja yang akan
digunakan sebagai bahan bakar.
Berdasarkan percobaan, jumlah biogas yang dihasilkan
oleh sampah organik yang berupa sampah sayuran 50 gram dengan bantuan substrat
50 gram kotoran sapi selama 5 hari mampu menghasilkan biogas sebanyak 4,3 mL.
Sehingga, dapat dihitung bahwa setiap 1 gram sampah sayuran mampu menghasilkan
biogas sebanyak 0.0172 ml/hari.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dibuat tabel
perbandingan antara jenis bahan baku dengan banyaknya biogas yang dihasilkan.
NO
|
Jenis Bahan Baku Biogas/kg
|
Biogas yang dihasilkan/hari
|
1.
|
Ampas Tahu
|
15 liter
|
2.
|
Kotoran Sapi/ekor
|
500-600 liter
|
3.
|
Eceng Gondok
|
0,6254 liter
|
4.
|
Sampah Organik (Sampah Sayur dan buah)
|
0,0172 liter
|
Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan baku
pembuatan biogas yang paling optimal adalah menggunakan kotoran sapi. Hal
tersebut dapat disebabkan karena pada kotoran sapi mengandung sejumlah selulosa
dalam kadar yang tinggi. Dan selulosa ini yang akan memudahkan bakteri anaerob
untuk mencernanya. Sehingga, pada pembuatan biogas dengan bahan baku kotoran
sapi akan mengandung sejumlah 55-65% gas metana, 30-35% gas karbondioksida, dan
sejumlah kecil gas nitrogen dan hidrogen.
III.
KESIMPULAN
Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa total massa biogas yang dihasilkan dari beberapa bahan baku
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti nilai pH, temperatur digester,
tekanan, waktu pembusukan, kelembapan udara dll.
Pada bahan baku ampas tahu, setiap 1 kg kedelai atau kurang lebih
9,46 liter ampas tahu mampu menghasilkan 15 liter biogas, bahan baku kotoran
sapi dapat dihitung mampu menghasilkan 0,5-0,6 m3/hari setiap satu
ekor sapi, bahan baku eceng gondok cacah sebesar 20
kg mampu menghasilkan biogas sebesar 0,0126345 kg/hari, sedangkan biogas berbahan baku 20 kg eceng gondok cacah
dengan substrat kotoran sapi mampu menghasilkan biogas sebesar 0,0125091
kg/hari, kemudian yang terakhir yakni bahan baku dari sampah sayuran, setiap 1 gram sampah sayuran mampu menghasilkan biogas sebanyak
0.0172 ml/hari.
Berdasarkan data dari setiap bahan baku, disimpulkan
bahwa bahan baku pembuatan biogas yang paling optimal adalah menggunakan
kotoran sapi. Hal tersebut dapat disebabkan karena pada kotoran sapi mengandung
sejumlah selulosa dalam kadar yang tinggi. Dan selulosa ini yang akan
memudahkan bakteri anaerob untuk mencernanya.
DAFTAR PUSTAKA
Damanhuri, Enri. 2010. Pengelolaan Sampah Jurusan Teknik
Lingkungan. Bandung: ITB.
Irawan Dwi, dan Santoso Teguh. tanpa tahun. Pengaruh Perbedaan
Starter terhadap Produksi Biogas dengan Bahan Baku Eceng Gondok. Turbo,
Vol. 3, No. 2, pp. 28-33.
Kaharudin dan F, Sukmawati.2010.Petunjuk Praktis Manajemen Umum
Limbah Ternak untuk Kompas dan Biogas.Bab Pengkajian Teknologi Pertanian.23
Hlm.
Mulyatun. 2016. Sumber Energi Terbarukan dan Pupuk Organik dari
Limbah Kotoran Sapi. Dimas, Vol. 16, No. 1, pp. 191-214.
Sadzali Imam. 2010. Potensi Limbah Tahu sebagai Biogas.
Jurnal UI untuk Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi, Vol. 1, pp. 62-69.
Yenni, Dewilda Yommi, dan Sari Serly Mutia. 2012. Uji
Pembentukan Biogas dari Substrat Sampah Sayur dan Buah dengan Ko-Substrat
Limbah Isi Rumen Sapi. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND, 9 (1): 26-36.
Komentar
Posting Komentar