I'm not a MorningStar
Semesta, aku senang bisa mengenalmu. Sekalipun penuh sendu, muram durja dan pilu
Aku teramat bersyukur 'pernah' mati-matian ingin menggapaimu dalam letihku
Meski, aku sangat sadar, belum banyak usaha nyata yang menjadi jalanku menemuimu
Semesta, jika saja aku diberi pilihan untuk tertarik padamu atau tidak!
Jika akhirnya akan begini, jika hatiku akan tersayat sebab gagal menggapaimu, maka aku akan lebih memilih untuk tidak tertarik padamu, aku akan lebih memilih untuk menjadi perempuan pada umumnya, yang mencintai dunia perempuan beserta akesesoris dan perhiasannya. Aku akan lebih memilih jalan yang banyak dipilih oleh perempuan pada umumnya. Bersikap biasa saja, sewajarnya mengamati langit, karena memang tidak ada yang berbeda dengan langit, sepanjang kita tidak menganggapnya istimewa. Sepertinya memang aku yang berlebihan menganggapmu istimewa, semesta
Sehingga aku sesak sendiri sebab belum sampai padamu, aku sudah menyerah.
Maafkan aku, semesta.
Tapi, aku tidak akan lupa sebuah pepatah klise yang mengatakan bahwa "se-melenceng apapun kita dalam hidup, selagi di hati kita masih memiliki keinginan, semesta akan menggiring kita menuju keinginan itu lagi"
Benarkah demikian, semesta?
Aku bingung, harus mengatakan apa padamu, see you or good bye?
Regards,
Dari perempuan yang dahulu menamai dirinya dengan sebutan MorningStar_
Komentar
Posting Komentar