Dear Semesta

 Dear semesta

Disini, saya ingin menulis beberapa hal yang mengganjal dalam hati saya


Semesta, kita memang tidak pernah mengerti dan memahami dengan sebuah kejadian yang dirangkum dalam satu kata berupa Takdir.

Aku pun demikian.

Semesta, mungkin aku akan banyak menumpahkan kata dengan imbuhan "seandainya seperti ini", "seandainya seperti itu", dan kumpulan kata "andai-andai lainnya" itu pasti menjadi bibit dari sifat kurangnya syukur. Astaghfirullah, padahal pada dasarnya, syukur adalah kunci utama kita merasa cukup. Tuhan tidak pernah membuat hidup makhlukNya berbelit-pelit, hanya saja makhlukNya saja yang terlalu banyak mengucapkan kata "seandainya" yang mengakibatkan kurangnya syukur itu timbul.


Semesta, jangan tatap aku seperti itu. Aku hanya ingin bercerita, perihal hatiku yang semena-mena menjadi kelabu, semena-mena merona, semena-mena mendung, semena-mena berbunga, dan perasaan semena-mena lainnya.

Semesta, aku yakin, pasti kamu paham betul bahwa itu adalah perasaan yang wajar. Tapi semesta, akibat perasaan yang seperti itu, sering membuatku bingung sendiri dalam menentukan sikap. Jangankan orang lain, aku sendiri terkadang seperti tidak mengenali diriku sendiri. Aku tidak ingin mengasingkan diri sendiri dari diriku.

Semesta, tolong dukung..

Entah apa, bagaimana nanti dan keputusan apapun yang akan ku ambil, tolong dukung..


Nanti dilanjut lagi ya semesta. Mau asaran dulu.


Regards, Eva


Pasuruan, 04 Januari 2021

Komentar

Postingan Populer