Red Zone
Selamat malam semesta, malam ini
aku ingin berbincang dengan bintang-bintang seperti masa kecil dulu, bertanya
tanpa tiada sesiapapun yang menjawab. Aku tak masalah bertutur sapa seorang
diri, karena itu adalah salah satu caraku untuk berkenalan dengan diriku sendiri.
Selamat malam semesta, malam ini
aku ingin mengajakmu berbincang perihal hati, hingga detik ini tulisan ini
diketik melalui jari jemari yang saling berdansa diatas keyboard, ah! Aku terlampau dramatis. Tapi ketahuilah wahai
semesta, tolong ajari aku bagaimana cara untuk berkomitmen dan menjaga komitmen,
ajari aku untuk mencapai itu.
Wahai semesta, perihal hati yang
ingin ku bincangkan kali ini sedikit serius, aku tidak tahu dan tidak sanggup
mengukur kadar keseriusannya, karena satu hal; “Aku tidak tahu, aku diciptakan
dari tulang rusuk siapa?” sebelum pertanyaan dan gagasan itu dijawab oleh
takdir, aku tidak perlu untuk menjatuhkan hatiku sepenuhnya kepada siapapun
kan? Semua ini ku lakukan semata karena aku tidak ingin berharap pada suatu hal
yang belum pasti. Aku sukanya yang pasti-pasti aja, Semesta. Harga pas, tanpa
nego dan tawar-menawar. Sebetulnya dalam relation
kami, aku yang salah. Dia sudah menawarkan kepastian, tapi aku masih saja
enggan untuk menerima kepastiannya, if
you ask me, am I dislike him? I say No, but I like him. Lantas? Kenapa Eva?
Aku sendiri tidak tahu, ada yang eror di pikiranku memang, ketika banyak orang
yang setia menanti kepastian, aku malah menunda kepastian itu. Maafkan aku, I need more time to say “Welcome” kepada orang yang katakanlah “Asing” bagiku. I feel that I am so weird.
Wahai semesta, perihal hati saat
ini, aku tidak merasakan apapun, meskipun di sisi lain, aku merasa akhir-akhir
ini sedang dipertemukan dengan orang yang pernah ku gumamkan dalam anganku
beberapa tahun yang lalu. Sifatnya mirip sekali dengan sosok yang pernah
terlintas dalam benakku, mengalah, bertanggung jawab, care dan semoga sholih. Itu
yang sementara aku lihat, tapi jika kau ingin menanyakan bagaimana fakta
tentangnya? Aku tidak tahu, aku belum mengenalnya lebih dalam, lebih jauh. Yah,
semoga saja aku tidak sedang dibutakan oleh rasa “suka”, dan semoga saja apa
yang aku lihat saat ini, benar-benar karakternya di kemudian hari dan
selamanya.
Wahai semesta, tapi kembali lagi
pada konsep hukum “Jodoh tidak akan tertukar, jodoh adalah cerminan diri, jodoh
sudah diaturNya” itu tidak bisa dilanggar. Pun aku tidak pernah mendo’akan
orang tertentu akan membersamaiku. Aku tidak berdaya men-dikte Tuhan. Yang mampu
ku do’akan hanya “Jika memang dia adalah jodohku dan sebab dia aku diciptakan, maka
dekatkanlah kami, berilah kami petunjukMu, serta ridhoi kami. Namun jika dia bukan
jodohku, jauhkan kami, berilah kami petunjukMu, segerakan kami untuk berjumpa
dengan jodoh kami” Aamiinn Yaa
Mujibassailiin.
Wahai semesta, maafkan aku yang
masih sanggup berdo’a demikian kepada Sang Maha Pencipta. Aku tak berdaya untuk
memintanya menjadi jodohku. Aku malu, jika manusia pendosa sepertiku meminta
langit, sedang ibadah yang tingginya setara tinggi pohon jati saja aku masih
banyak mengeluh.
SEKIAN PERBINCANGAN INI SEMESTA, MAAF KALI INI AKU TIDAK BISA MENGHIDANGKANMU
PUISI.
SEMOGA KAU BERKENAN MEMBACA KELUH KESAHKU, SELAMAT MALAM, SEMESTA.
Mlg, 13 Juni 2020
Komentar
Posting Komentar